a.Tuntunan agama

Pengertian Iman kepada allah

Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah syari’at yaitu meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dalam amal perbuatan yang terdiri dari tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan cabang. Yang tertinggi adalah ucapan لاَ اِلَهَ اِلاَّ لله dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan yang menggangu orang yang sedang berjalan, baik berupa batu, duri, barang bekas, sampah, dan sesuatu yang berbau tak sedap atau semisalnya.

Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam bersabda,

”Iman lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, paling utamanya perkataan لاَ اِلَهَ اِلاَّ لله dan yang paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan cabang dari keimanan.

Secara pokok iman memiliki enam rukun sesuai dengan yang disebutkan dalam hadist Jibril ii tatkala bertanya kepada Nabi Shallahu’alaihi wa sallam tentang iman, lalu beliau menjawab,

الإِيْماَنُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَِئكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ والْيَوْمِ اْلآخِرِوَتُؤْمِنَ بِالْقَدِرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan percaya kepada taqdirNya, yang baik dan yang buruk.

Adapun cakupan dan jenisnya, keimanan mencakup seluruh bentuk amal kebaikan yang kurang lebih ada tujuh puluh tiga cabang. Karena itu Allah menggolongkan dan menyebut ibadah shalat dengan sebutan iman dalam firmanNya,

”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu

Para ahli tafsir menyatakan, yang dimaksud ’imanmu’ adalah shalatmu tatkala engkau menghadap ke arah baitul maqdis, karena sebelum turun perintah shalat menghadap ke Baitullah (Ka’bah) para sahabat mengahadap ke Baitul Maqdis.

Iman kepada Allah

Iman  kepada  Allah  adalah  mempercayai bahwa Dia itu maujud (ada) yang disifati dengan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan,

yang suci dari sifat-sifat kekurangan. Dia Maha Esa, Mahabenar, Tempat bergantung para makhluk, tunggal (tidak ada yang setara dengan Dia), Pencipta segala makhluk, Yang melakukan segala yang dikehendakiNya, dan mengerjakan dalam kerajaanNya apa yang dikehendakiNya.

Beriman  kepada  Allah  juga  bisa  diartikanvi,  berikrar  dengan  macam-macam  tauhid yang tiga serta beri’tiqad (berkeyakinan) dan

beramal dengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma’ wa ash-shifaat. Iman kepada Allah mengandung empat unsur:

Beriman akan adanya Allah.

Mengimani adanya Allah ini bisa dibuktikan dengan:

1.1.Bahwa manusia mempunyai fitrah mengimani adanya Tuhan tanpa harus di dahului dengan berfikir dan sebelumnya. Fitrah ini

tidak akan berubah kecuali ada sesuatu  pengaruh  lain  yang  mengubah  hatinya. Nabi Shallahu’alaihi wa  sallam  bersabda:

مَامِنْ مَوْلُوْدٍِ إِلاَّ يُوْ لَدُعَلَى الْفِطْرَةِ فَأَ بْوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ

”Tidaklah anak itu lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanya lah yang menjadikan mereka Yahudi, Nashrani,

atau Majusi.”

1.2.Bahwa   makhluk   tersebut  tidak   muncul  begitu   saja secara  kebetulan, karena   segala sesuatu  yang  wujud  pasti ada yang

mewujudkan yang tidak lain adalah Allah, Tuhan semesta alam. Allah berfirman,

”Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”


Maksudnya,  tidak  mungkin  mereka  tercipta  tanpa ada yang menciptakan dan tidak mungkin mereka mampu  menciptakan

dirinya  sendiri. Berarti mereka pasti ada yang menciptakan, yaitu Allah yang maha suci.

Lebih jelasnya kita ambil contoh, seandainya ada orang yang memberitahu anda ada sebuah istana  yang sangat megah yang

dikelilingi taman, terdapat sungai yang mengalir di sekitarnya, di dalamnya penuh permadani, perhiasan dan ornamen-ornamen

indah. Lalu orang tersebut berkata kepada anda, istana yang lengkap beserta  isinya itu  ada  dengan  sendirinya atau  muncul

begitu saja tanpa ada yang membangunnya. Maka anda   pasti  segera  mengingkari  dan tidak  mempercayai  cerita  tersebut

dan anda menganggap ucapannya itu sebagai suatu kebodohan.

Lalu apa mungkin alam semesta yang begitu luas yang dilengkapi dengan bumi, langit, bintang, dan planet yang tertata rapi,

muncul dengan sendirinya atau muncul dengan tiba-tiba tanpa ada yang menciptakan?

1 .Adannya kitab-kitab samawix yang membicarakan tentang adanya Allah. Demikian pula hukum serta aturan dalam kitab-kitab

tersebut   yang  mengatur   kehidupan   demi   kemaslahatan   manusia menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari

Tuhan Yang Maha Esa.
2. Adanya orang-orang yang dikabulkan do’anya. Ditolongnya orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, ini menjadi

bukti-bukti kuat adanya Allah. Allah berfirman:

”Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami memperkenankan doanya, lalu kami selamatkan

dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.

1 .Adanya  tanda-tanda kenabian  seorang  utusan  yang  disebut  mukjizat  adalah  suatu  bukti  kuat  adanya Dzat yang mengutus

mereka yang tidak lain Dia adalah Allah Azza wa Jalla.

Misalnya: Mukjizat nabi Musa ’Alahissalam. Tatkala belau diperintah memukulkan tongkatnya ke laut sehngga terbelahlah

lautan tersebut menjadi dua belas jalan yang kering dan air di antara jalan-jalan  tersebut  laksana  gunung.  Firman  Allah

”Lalu  kami  wahyukan  kepada  Musa: “Pukullah  lautan  itu  dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap

belahan adalah seperti gunung yang besar.”

Contoh  lain  adalah  mukjizat  yang  diberikan  kepada   nabi  Isa   ’Alaihissalam   berupa   membuat   burung dari tanah,

menyembuhkan orang buta sejak lahirnya dan penyakit sopak xiii, menghidupkan orang mati dan mengeluarkan dari

kuburannya atas izin Allah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Aku Telah datang  kepadamu  dengan  membawa   sesuatu  tanda  (mukjizat)  dari  Tuhanmu, yaitu  Aku

membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Aku meniupnya, Maka  ia  menjadi  seekor  burung dengan

seizin Allah; dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya  dan  orang  yang  berpenyakit  sopak; dan Aku

menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu  makan dan  apa yang kamu

simpan di rumahmu.

1. Mengimani sifat rububiyah Allah (Tauhid Rububiyah)

Yaitu  mengimani  sepenuhnya  bahwa  Allah-lah  memberi  rizki,  menolong,  menghidupkan, mematikan  dan  bahwasanya Dia itu

adalah pencipta alam semesta, Raja dan Penguasa segala sesuatu.

2. Mengimani sifat uluhiyah Allah (Tauhid Uluhiyah)

Yaitu mengimani hanya Dia lah sesembahan yang tidak ada  sekutu  bagi-Nya,  mengesakan  Allah  melalui  segala  ibadah  yang

memang disyariatkan dan diperintahkan-Nya dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi

wali maupun yang lainnya.

Tauhid rububiyah saja tanpa adanya  tauhid  uluhiyah  belum  bisa  dikatakan  beriman kepada Allah karena kaum musyrikin pada

zaman Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam juga  mengimani  tauhid  rububiyah  saja  tanpa  mengimani  tauhid  uluhiyah, mereka

mengakui bahwa Allah yang memberi rizki dan mengatur segala urusan tetapi mereka juga menyembah sesembahan selain Allah.

Allah berfirman,

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah  yang  kuasa  (menciptakan)  pendengaran

dan  penglihatan, dan siapakah  yang  mengeluarkan  yang  hidup  dari  yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup

dan   siapakah   yang   mengatur   segala   urusan.’  Maka, mereka   men-jawab:   ‘Allah.’  Maka,  katakanlah:  ‘Mengapa kamu tidak

bertaqwa (kepada-Nya)?’ …

Dan Allah berfirman,

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan

sembahan-sembahan lain ).

1. Mengimani Asma’ dan Sifat Allah (Tauhid Asma’ wa Sifat)

Yaitu menetapkan apa-apa yang Allah dan RasulNya telah tetapkan atas diriNya baik itu berkenaan dengan nama-nama maupun

sifat-sifat Allah, tanpa tahrifxvii dan ta’thilxviii serta tanpa takyif  dan tamtsil

Dua Prinsip dalam meyakini sifat Allah Subhanahu wa ta’ala,

  • Allah Subhanahu wa ta’ala wajib disucikan dari semua sifat-sifat kurang secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.
  • Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah  dan  diri  seperti  disebutkan  sendiri  oleh  Allah

dalam  al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang wajah, tangan dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai

sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaan-Nya

atau nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakan sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat  yang  dipegang  oleh  ahli  qadar

dan golongan Mu’tazilah.

Beliau juga berkata: “Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan makhluk-Nya  juga  tidak  serupa  dengan  Allah. Allah itu

tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah berfirman,

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.

Buah beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah secara benar sebagaimana digambarkan akan membuahkan beberapa hasil yang sangat agung bagi orang-orang beriman, diantaranya:

1. Merealisasikan pengesaan kepada Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut, dan

tidak menyembah kepada selain-Nya.
2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan kandungan makna nama-nama-Nya yang

indah dan sifat-sifat-Nya Yang Agung.
3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

sumber pustaka:http://www.crayonpedia.org/mw/Iman_kepada_Allah_7.1

1.     Rukun Iman Ada 6 :

1.Iman Kepada Allah

2. Iman Kepada Malaikat Allah

3. Iman Kepada Kitab Allah

4. Iman Kepada Rasul Allah

5. Iman Kepada Hari akhir

6. Iman Kepada qadha dan Qadar

2.     Iman menurut bahasa berarti keyakinan atau kepercayaan, sedangkan menurut istilah berarti kepercayaan tentang adanya Allah sekaligus membenarkan apa saja yang dating dari Allah dengan cara meyakini dalam hati, menyatakan dengan lisan, dan membuktikan  dengan amal nyata.

3.     Iman kepada Allah Swt berarti meyakini dalam hati sifat-sifat kesempurnaan Allah yang maha suci dari sifat-sifat kekurangan, ditunjukkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan amal perbuatan

4.     A. Sifat Wajib Bagi Allah

Sifat –sifat yang harus akda pada Allah, jumlahnya ada 13 atau 20 jika termasuk 7 sifat “maha” yang dimiliki Allah

B. Sifa Mustahil bagi Allah

Sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada Allah, merupakan kebalikan dari sifat wajib sehingga jumlahnya sama dengan sifat wajib, jumlahnya ada 13 atau 20 jika     termasuk 7 sifat “maha” yang dimiliki ALLAh

C.   Sifat Jaiz Bagi Allah

SifaT mungkin bagi Allah untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Sifat Jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu sifat wewenang bagi Allah untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu menurut kehendaknya

5.     A. Sifat Nafsiyah

Adalah sifat yang berhubungan dengan dzat Allah Swt, yang termasuk kelompok ini adalah sifat wujud

IMAN KEPADA MALAIKAT

Malaikat adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Ta�ala. Keimanan kepada malaikat merupakan salah satu rukun dari rukun iman, hal ini sebagaimana penjelasan Rosululloh shollallohu �alaihi wa sallam dalam hadits Jibril, dimana malaikat Jibril bertanya kepada beliau tentang iman dan kemudian dijawab oleh Rosululloh �Engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik dan buruk.� (HR. Muslim). Ini artinya orang yang tidak mengimani malaikat maka dia telah terjerumus dalam kekufuran karena telah mengingkari salah satu rukun iman. Oleh karena itulah amat penting bagi kita untuk mengetahui apa dan bagaimanakah bentuk keimanan yang benar terhadap makhluk-makhluk Alloh Ta�ala yang mulia ini? Berikut adalah penjelasan singkat mengenai hal tersebut.

Bentuk dan Sifat Malaikat

Malaikat adalah makhluk gaib diciptakan oleh Alloh Ta�ala dari cahaya, walaupun mereka memiliki keluarbiasaan yang sangat hebat mereka tidak berhak untuk diibadahi. Hal tersebut dapat kita ketahui berdasarkan hadits Rosululloh dari �Aisyah rodhiyallohu �anha, �Malaikat itu diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari percikan api, sementara Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepadamu.� (HR. Muslim). Mereka juga memiliki sayap, �Segala puji bagi Alloh Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.� (Faathir: 1)

Sifat malaikat yang paling utama adalah mereka tidak pernah mendurhakai apa yang Alloh perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Alloh titahkan kepada mereka. Mereka diciptakan oleh Alloh khusus untuk beribadah kepada-Nya. Alloh berfirman, �Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.� (At Tahrim: 6)

Bentuk para malaikat terkadang berubah dari aslinya atas izin Alloh, sebagaimana Jibril datang pada Rosululloh dengan menyerupai laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya. Nabi pernah mengabarkan bahwa Jibril memiliki enam ratus sayap yang menutupi seluruh ufuk semesta alam.

Unsur Keimanan Kepada Malaikat

Beriman kepada Malaikat mengandung empat unsur, yaitu:

1. Beriman terhadap keberadaan mereka, wujud mereka benar-benar ada, mereka bukanlah kekuatan maknawi berupa kekuatan baik yang tersembunyi pada setiap makhluk sebagaimana anggapan segolongan orang.

2. Beriman kepada nama-nama mereka yang telah dijelaskan dalam Qur�an dan Sunnah. Adapun mereka yang tidak dijelaskan namanya kita mengimaninya secara global. Maksudnya kita mengimani bahwa Alloh telah menciptakan mereka meskipun kita tidak tahu namanya.

3. Beriman terhadap sifat mereka yang telah dijelaskan. Seperti ciri-ciri malaikat Jibril yang dikisahkan dalam hadits di atas.

4. Beriman terhadap tugas-tugas para Malaikat sebagaimana telah dijelaskan. Mereka melaksanakan tugas itu tanpa rasa capek dan bosan.

Penamaan Malaikat

Kita wajib mengimani secara rinci terhadap beberapa malaikat yang kita ketahui namanya seperti Jibril, Mikail, Malik, serta Isrofil. Kita juga mengimani secara global adanya malaikat-malaikat yang tidak kita ketahui namanya. Tidaklah diperbolehkan bagi seseorang untuk menamakan malaikat tanpa adanya dalil-dalil yang shahih baik dari Al Qur�an maupun Sunnah sebagaimana firman Alloh, �Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.� (An Najm: 27)

Macam-Macam Malaikat dan Tugasnya

Kita juga mengimani bahwa ada berbagai macam malaikat beserta tugasnya masing-masing. Di antara mereka adalah:

1. Malaikat yang bertugas membawa wahyu kepada para Rosul-Nya, yaitu malaikat Jibril. �Dia dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.� (Asy Syu�ara: 193-194)

2. Malaikat yang diserahi tugas mengurusi hujan dan pembagiannya sesuai dengan kehendak Alloh. Sebagaimana hadits dari Abu Huroiroh dari Rosululloh, �Tatkala seorang laki-laki berada di tanah lapang dia mendengar suara di awan, �Siramilah kebun fulan�, maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air di suatu tanah yang berbatu hitam�� (HR. Muslim)

3. Malaikat yang bertugas meniup sangkakala, yaitu malaikat Isrofil. ��kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.� (Al Kahfi: 99)

4. Malaikat yang bertugas mencabut nyawa, yakni malaikat maut (Demikianlah Alloh menamakan malaikat ini dengan Malakul Maut, dan tidak ada nash yang shohih yang menunjukkan bahwa namanya Izroil). �Katakanlah, �Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmu-lah kamu akan dikembalikan.�� (As Sajdah: 11)

5. Para malaikat penjaga surga. Alloh berfirman, �Sehingga apabila mereka sampai ke Surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka, �kesejahteraan atasmu, berbahagailah kamu, maka masukilah Surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.�� (Az-Zumar: 73)

6. Para malaikat penjaga Neraka Jahannam, yaitu malaikat Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah malaikat Malik. Sebagaimana firman Alloh tentang Neraka Saqor �Tahukah kamu apa Saqor itu? Saqor itu tidak meninggalkan dan membiarkan. (Neraka Saqor) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan malaikat.� (Al Muddatstsir: 27-30). Dan dalam firman-Nya yang lain tentang permintaan penghuni Neraka kepada malaikat Malik �Mereka berseru, �Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja�. Dia menjawab, �kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).� (Az Zukhruf: 77)

7. Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya. Sebagaimana firman Alloh, �Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga�� (Al An�am: 61)

8. Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, yang baik maupun yang buruk. Alloh berfirman, �Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.� (Az Zukhruf: 80). (Lihat Kitab Tauhid 2, Tim Ahli Tauhid)

Buah Keimanan Kepada Malaikat

Keimanan seseorang terhadap malaikat akan berdampak bagi meningkatnya ketakwaan seseorang, dimana dia akan lebih berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu, hal ini dikarenakan pengetahuannya bahwa segala sesuatu yang dia lakukan berupa perbuatan maupun perkataan, yang baik maupun yang buruk, akan dicatat para malaikat yang ditugasi oleh Alloh, yang kemudian pada hari kiamat nanti seluruh amal yang telah tercatat tersebut akan diberikan balasan yang setimpal dari Alloh. �Dan kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.� (Al Jatsiyah: 28). Dengan demikian seorang hamba akan senantiasa berusaha agar keburukan demi keburukan tidak menghiasi catatan amalnya, supaya sesal di akhirat tidak semakin berlipat ganda. Wallohu a�lam.

sumber pustaka:http://www.indonesiaindonesia.com/f/5310-iman-malaikat/

 

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Orang Muslim menyakini dunia ini mempunyai saat terakhir di mana ia berhenti padanya. Kemudian datang kehidupan kedua, yang tidak mempunyai penghabisan, yaitu hari lain di negeri akhirat. Pada hari tersebut, Allah Ta’ala membangkitkan semua makhluk, mengumpulkan mereka semua kepada-Nya untuk dihisab orang-orang baik dibalas dengan kenikmatan abadi di surga, dan orang jahat dibalas dengan siksa yang menghinakan di neraka.

Hari Kiamat didahului dengan tanda-tandanya, seperti keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa Alahis Salam, keluarnya hewan besar, kemunculan matahari dari barat, dan tanda-tanda lainnya. Dilanjutkan dengan peniupan sangkakala kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah, Tuhan semesta alam. Dilanjutkan lagi dengan pembagian buku catatan amal perbuatan. Ada orang yang menerimanya dengan tangan kanan dan ada orang yang menerimanya dengan tangan kiri. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan timbangan, dilanjutkan dengan proses penghisaban(perhitungan), dan dilanjutkan dengan pemasangan titian. Dan rentetan ini berakhir dengan menetapnya penghuni surga di surga, dan menetapnya penghuni neraka di neraka. Orang Muslim menyakini itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hari akhir dalam firman-firman-Nya, misalnya dalam firman-firman-Nya berikut ini:
    • “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27).
    • “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujikalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 34-35).
    • “Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’ Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7).
    • “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (yaitu) Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6).
    • “Dan memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (Asy-Syura: 7).
    • “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8).
    • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kami pun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158).
    • “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82).
    • “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir.” (Al-Anbiya’: 96-97).
    • “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik? Tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61).
    • “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 68-70).
    • “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka seseorang tidak dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami datangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47).
    • “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tidak ada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambil, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Di surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ‘Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah bainya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman), ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin’.” (Al-Haaqqah: 13-34).
    • “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bengkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 68-72).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. dalam sabda-sabdanya, misalnya sabda-sabdanya berikut ini:
    • “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata, ‘Ah, seandainya aku berada di tempatnya’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
    • “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga terjadi sepuluh hal: gerhana di timur, gerhana di barat, gerhana di Jazirah Arab, Dajjal, asap dan hewan besar, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, api keluar dari dalam Aden yang mengusir manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Dajjal muncul di umatku kemudian hidup selama empat puluh (hari, bulan, atau tahun), kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam yang mirip dengan Urwah bin Mas’ud yang kemudian mencarinya dan membunuhnya. Setelah itu, manusia hidup selama tujuh tahun tanpa ada permusuhan di antara dua orang. Kemudian, Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam. Maka, tidak tersisa di atas permukaan bumi orang yang di dalam hatinya terdapat kebaikan atau keimanan sebesar biji atom, melainkan direnggut oleh angin tersebut. Bahkan kalau seandainya salah satu di antara kalian masuk ke tengah gunung, maka angin dingin masuk kepadanya dan merenggutnya. Yang tersisa ialah orang-orang jahat dalam kebodohan seperti burung, dan dalam mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak memungkiri kemungkaran. Kemudian syaitan muncul kepada mereka dan berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian tidak merespon ajakanku?’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Syaitan menyuruh mereka menyembah berhala. Dalam kondisi seperti itu, rizki mereka banyak dan kehidupan mereka enak. Kemudian, sangkakala ditiup. Maka, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia memiringkan sisi lehernya (agar bisa mendengar), dan mengangkatnya. Orang yang pertama kali mendengar tiupan sangkakala ialah orang yang sedang melepa kolam untanya. Orang tersebut pun pingsan, begitu juga semua manusia. Kemudian, Allah menurunkan hujan seperti tetesan embun. Kemudian, dari air hujan tersebut tumbuhlah badan manusia. Sangkakala ditiup lagi pada manusia, tiba-tiba mereka berdiri saling memandang yang lain. Dikatakan kepada mereka, ’Hai manusia, mari pergi kepada Tuhan kalian. (Tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya) (Ash-Shaffat: 24).’ Kemudian dikatakan, ’Keluarkan penghuni neraka.’ Ditanyakan, ’Sejak kapan?’ Dikatakan, ’Dari setiap tahun sejumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan’. Itulah hari di mana (anak kecil menjadi tua) dan (hari tersingkapnya betis).” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada orang-orang jahat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Jarak antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh (hari, atau bulan, atau tahun), kemudian Allah menurunkan hujan dari langit kemudian manusia tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Tidak ada anggota badan manusia melainkan diuji, kecuali satu tulang, yaitu tulang di bawah. Dari tulang tersebut, manusia disusun pembentukannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. ketika berkhutbah, “Hai manusia, sesungguhnya kelak kalian dikumpulkan kepada Tuhan kalian dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak khitan. Ketahuilah, bahwa orang yang pertama kali dikenakan pakaian ialah Ibrahim a.s. Ketahuilah bahwa Nabi Ibrahim didatangkan dengan beberapa orang dari umatku, kemudian mereka dibawa ke sebelah kiri. Aku berkata, Wahai Tuhanku, mereka sahabat-sahabatku?’ Allah berfirman, Engkau tidak tahu apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu’.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Kedua kaki seorang hamba tidak bisa bergerak hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya di dalam hal apa saja ia gunakan, tentang ilmunya apa saja yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan ia infakkan untuk apa saja, dan tentang badannya di dalam apa saja ia habiskan.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi. At-Tarmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih dan juga disebutkan Muslim di Shahih-nya).
    • “Telagaku (luasnya) adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi daripada kesturi, dan tekonya seperti bintang-bintang di langit. Barang siapa minum airnya, ia tidak akan haus selama-lamanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ia ingat neraka kemudian menangis, “Kenapa engkau menangis?” Aisyah menjawab, “Aku ingat neraka kemudian menanngis. Apakah engkau ingat keluargamu pada hari kiamat?” Sabda Rasulullah saw., “Ada tiga tempat di mana seseorang tidak ingat pada orang lain: Di saat berada di timbangan, hingga ia tahu apakah timbangannya ringan atau berat? Di saat buku-buku catatan berterbangan, hingga ia tahu di mana buku catatannya jatuh, di tangan kanannya ataukah di tangan kirinya, ataukah di belakang punggungnya? Dan di titian ketika dipasangkan di antara tepi Jahannam hingga ia berhasil menyeberanginya.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad hasan).
    • “Setiap nabi mempunyai doa dan ia telah berdoa dengannya untuk umatnya. Sedang aku merahasiakan doaku sebagai syafaat untuk umatku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya).
    • “Aku penghulu anak keturunan Adam dan tidak ada kesombonngan dalam hal ini. Aku orang yang pertama kali tanahnya terbelah pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Aku pemberi syafaat pertama kali dan orang yang pertama kali syafaatnya diterima dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Panji pujian ada di tanganku pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Barang siapa meminta surga kepada Allah hingga tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkan orang tersebut ke surga.’ Barang siapa berlindung diri dari neraka hingga tiga kali, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah orang tersebut dari neraka’.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
  3. Keimanan jutaan para nabi, rasul, ulama, dan orang-orang shalih kepada hari akhir dan apa saja yang terjadi di dalamnya.

Dalil-Dalil Akal

  1. Kebaikan kekuasaan Allah Ta’ala untuk mengembalikan manusia setelah kematian mereka. Sebab, pengembalian mereka itu tidak lebih sulit dari penciptaan mereka tanpa contoh sebelumnya.
  2. Tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal pada hari kebangkitan dan hari pembalasan. Sebab, akal hanya memungkiri dan memustahilkan pertemuan dua hal yang saling berlawanan dan dua hal yang saling kontradiksi. Hari kebangkitan dan hari pembalasan sedikit pun tidak masuk dalam pembahasan tersebut.
  3. Hikmah Allah Ta’ala yang terlihat dalam semua tindakan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya dan hikmah-Nya yang menjelaskan segala sesuatu itu mustahil menurut akal tidak menghendaki adanya hari kebangkitan bagi makhluk setelah kematian mereka, dan tidak berakhirnya kehidupan dunia, serta tidak adanya balasan atas perbuatan buruk mereka.
  4. Keberadaan dunia dengan kenikmatan, dan penderitaan yang ada di dalamnya menjadi bukti adanya kehidupan lain di alam lain di mana di dalamnya terdapat keadilan, kebaikan, kesempurnaan, kebahagiaan, dan penderitaan yang jauh lebih banyak daripada di dunia. Kehidupan di dunia dengan kebahagiaan dan penderitaan di dalamnya tidak lebih dari sehelai daun kecil jika dibandingkan istana megah, atau taman asri di akhirat

sumber pustaka:http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=60&Itemid=4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: